Menemukan ‘Gap’ Penelitian untuk Buku Monograf dan Artikel Jurnal

Artikel

Share

Sebagai dosen atau guru, Anda mungkin sering mendengar nasihat, “Penelitianmu harus mengisi gap (celah) dalam ilmu pengetahuan.” Namun, pertanyaan besarnya adalah: Bagaimana cara menemukan celah yang belum terisi itu?

Menemukan research gap ibarat menjadi detektif ilmiah. Anda bukan hanya mencari yang “hilang,” tetapi juga mengidentifikasi yang “belum lengkap,” “belum tepat,” atau “perlu dikonfirmasi ulang.” Kemampuan inilah yang menjadi fondasi bagi sebuah buku monograf yang berdampak atau artikel jurnal yang layak terbit. Berikut adalah rahasia dan strategi praktis untuk melakukannya.

Apa Sebenarnya “Gap” Itu?

Gap penelitian adalah pertanyaan, masalah, atau area yang belum terjawab atau belum dieksplorasi dalam bidang ilmu tertentu. Ia adalah ruang kosong yang menunggu untuk diisi oleh kontribusi orisinal Anda. Gap bisa berupa:

  • Pertanyaan yang belum diajukan.

  • Metode yang belum diterapkan pada konteks tertentu.

  • Populasi atau sampel yang belum diteliti.

  • Teori yang belum diuji dengan data empiris terbaru.

  • Kontradiksi antara beberapa penelitian existing yang perlu didamaikan.

5 Langkah Sistematis untuk Berburu “Gap”

1. Laungkan “Bacaan Ekstensif” dengan Pertanyaan Kritis

Ini adalah langkah mutlak. Anda tidak bisa menemukan celah tanpa mengetahui peta wilayah ilmu Anda secara menyeluruh.

  • Baca Artikel Jurnal Terkini (3-5 Tahun Terakhir): Jangan hanya membaca abstrak. Fokus pada bagian “Conclusion” atau “Future Research”. Di sinilah para peneliti sebelumnya dengan sukarela memberikan petunjuk tentang celah yang mereka temui! Catat semua saran mereka.

  • Lakukan Systematic Literature Review Sederhana: Cari 15-20 artikel kunci di bidang Anda. Buat tabel berisi: Judul, Metode, Temuan, dan Keterbatasan (Limitations). Dari tabel inilah pola dan celah akan mulai terlihat.

  • Baca Buku Monograf dan Review Articles: Buku monograf memberikan perspektif yang komprehensif, sementara review articles (artikel tinjauan) meringkas kemajuan bidang tersebut. Keduanya sering menyoroti area yang masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.

2. Identifikasi Pola “Ketidakkonsistenan” dan Debat

Jika Anda menemukan dua atau lebih penelitian dengan topik serupa tetapi memiliki hasil yang bertolak belakang, selamat! Anda mungkin telah menemukan gap yang berharga.

  • Contoh: Beberapa penelitian menyatakan model pembelajaran A lebih efektif untuk siswa SMA, sementara penelitian lain menyatakan tidak ada perbedaan signifikan dengan model B. Gap-nya adalah: “Faktor apa yang menyebabkan ketidakkonsistenan ini? Apakah ada variabel moderator (seperti gaya belajar atau latar belakang sosial) yang mempengaruhi hasilnya?”

3. Terapkan Perspektif atau Konteks yang Baru

Ini adalah strategi ampuh, terutama untuk penulisan buku monograf yang membutuhkan sudut pandang yang unik.

  • Konteks Lokal: Teori dari Barat mungkin sudah banyak diteliti. Bagaimana jika teori itu diterapkan dalam konteks budaya, ekonomi, atau geografis Indonesia? Apakah hasilnya akan sama?

  • Konteks Disiplin Ilmu Lain (Interdisipliner): Bisakah Anda menerapkan teori sosiologi untuk memecahkan masalah dalam pendidikan? Atau menggunakan lensa ekonomi untuk menganalisis fenomena literasi? Kombinasi disiplin ilmu adalah lahan subur untuk menemukan gap.

  • Konteks Teknologi: Bagaimana perkembangan AI, big data, atau metaverse membuka perspektif baru pada bidang ilmu Anda? Misalnya, “Analisis Etika Penerapan Chat GPT dalam Penulisan Karya Ilmiah Siswa.”

4. Tantang Asumsi dan “Kebenaran yang Mapan”

Setiap bidang ilmu memiliki paradigma dan asumsi yang jarang dipertanyakan. Cobalah untuk menjadi “si pembuat onar” yang kritis.

  • Ajukan Pertanyaan: “Mengapa kita selalu melakukan ini dengan cara seperti ini?” “Apakah asumsi dasar dari teori X masih relevan di era digital?” “Bagaimana jika variabel Y justru merupakan faktor utama, dan bukan variabel Z seperti yang selama ini dipercaya?”

5. Manfaatkan Teknologi dan Alat Bantu

Anda tidak perlu melakukan semuanya secara manual. Beberapa alat dapat mempercepat proses perburuan gap Anda:

  • Google Scholar & Scopus: Gunakan fitur “Related Articles” dan “Cited By”. Melihat artikel yang mengutip sebuah penelitian lama dapat menunjukkan perkembangan dan percabangan ide baru.

  • Alat Mind-Mapping (Seperti XMind atau Miro): Setelah membaca banyak literatur, buatlah mind map untuk memvisualisasikan hubungan antar konsep. Ruang kosong dalam peta pikiran Anda itulah yang sering kali merupakan gap.

  • AI Research Assistants (Seperti Consensus, Elicit, atau Scite): Tools AI ini dapat membantu meringkas literatur, menemukan artikel serupa, dan bahkan mengidentifikasi konsensus atau perdebatan dalam suatu topik.

Dari “Gap” ke Rumusan Masalah yang Kuat

Setelah Anda menemukan calon gap, uji dengan pertanyaan berikut:

  1. Apakah ini spesifik dan terukur?

  2. Apakah ini benar-benar baru dan orisinal? (Cek kembali database jurnal).

  3. Apakah ini signifikan? Apakah menjawab gap ini akan memberikan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan atau praktik?

  4. Apakah ini feasible? Dapatkah Anda menjawabnya dengan sumber daya, waktu, dan kemampuan yang Anda miliki?

Jika jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah “Ya,” maka Anda telah menemukan research gap yang berkualitas.

Kesimpulan

Menemukan gap bukanlah tentang kejeniusan, melainkan tentang kejelian, kekritisan, dan strategi. Dengan membaca secara luas dan mendalam, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan berani memadukan perspektif yang berbeda, Anda akan melatih “indra” untuk mendeteksi celah-celah ilmu pengetahuan.

Proses ini adalah jantung dari karya akademik yang autentik. Jadi, jadilah detektif ilmiah untuk bidang Anda sendiri. Mulailah perburuan Anda hari ini, dan ubah gap yang Anda temukan menjadi kontribusi orisinal yang mengisi kekosongan dalam khazanah ilmu pengetahuan.

No Terms Found

Written by

I’ve learned that writing doesn’t always begin with clarity it often begins with curiosity. Some days the words come easily, other days they hide. But if I keep showing up, something honest always finds its way through.

Related Articles

2 Comments On “Menemukan ‘Gap’ Penelitian untuk Buku Monograf dan Artikel Jurnal”

Leave a Reply to sdsad assad Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *